Senin, 15 Agustus 2011

Mbak Emi 6

Aku akhirnya mendapatkan kesempatan untuk memadu kasih dan cinta di rumah Mbak Emi, ketika aku menjelang gelap kehujanan ketika pulang dari pekerjaanku, aku tak begitu hafal daerah tempat tinggalnya ketika aku mencoba mencari jalan keluar mengatasi banjir Jakarta di mana mana, orang pada bingung, ketika aku membelokan sebuah gang dan keluar, oh kok langsung menuju jalan ke rumah Mbak Emi. Aku berpikir nggak mampir, namun rasanya seperti dibakar asmara, karena sudah beberapa hari ini aku sangat sibuk dan aku selama seminggu belum juga ngeseks dengan siapapun, namun aku masih kuat, ketika aku lewat rumahnya, tampak Mbak Emi sedang duduk di teras rumahnya . Aku lalu memutar motorku dan balik lagi, menuju gerbang rumahnya. Mbak Emi Febriant melihati motorku di gerbang rumahnya, melihat aku datang langsung berbunga bunga dan senang. Dia menunggu aku di teras sambil berdiri, kuparkir motorku menuju samping rumah yang merupakan garasi, Mbak Emi menyusulku dan ketika aku membuka helmku, Mbak Emi langsung memelukku dan mencium bibirku.

“Kemana saja kamu sayang .. “ katanya sangat rindu, namun aku tak begitu merespons ciumannya dan hanya membalas dengan rasa hambar karena takut ada orang di rumahnya.

“Ya .. sibuk sih Mbak … masalah pekerjaan” ujarku sambil mematikan mesin lalu meninggalkan motorku lalu mencopot mantolku dari mantol celana dan mantol baju lalu ketika dia mengajakku masuk ke dalam, aku memeluk pinggang Mbak Emi berjalan menuju ke ruang tengah

“Kau kangen padaku ya Mbak ?” tanyaku sambil meremas remas kepalanya tanda sayang

“Iya … sih, mana sudah seminggu ini pacarmu nggak kau apeli .. tega amat kau ini“

Aku hanya tersenyum mengejek

“Manja ya ?”

“Iya deh .. masak nggak boleh sama pacarku ?”

“Huss .. jangan keras keras .. Mbak .. “

“Nggak ada orang di rumah .. aku sendirian .. “

Aku hanya melongo sambil memandangnya. Mbak Emi hanya tersenyum dengan penuh arti sambil menggandengku ke dalam, cara menggandeng juga pastilah tanganku menyenggol buah dadanya yang ranum dan menggairahkan membuat penisku berdiri, namun aku memakai kaos tanpa dimasukan ke baju maka tidak kelihatan.

Mbak Emi menyuruh aku duduk di sofa. Aku memang sangat lelah menempuh perjalanan itu, disamping tubuhku juga dingin. Mbak Emi mengelus pipiku

“Kau dingin banget nih … aku bikinan minuman hangat ya .. jangan jangan kau masuk angin nanti”

Mbak Emi meninggalkan aku sendirian di ruang tengah, aku hanya mengeluarkan laptopku dari tas dan kubiarkan di meja tanpa kuhidupkan. Mbak Emi datang lagi membawa minuman hangat, ketika meletakan dua buah gelas di meja itu membungkuk sehingga buah dadanya yang besar dan membusung itu menjadi tontonan mataku. Mbak Emi menyadari perbuatanku dan langsung reflek menutup bajunya dengan tangan

“Nakal kamu .. “

“Halah .. aku sudah sering melihatmu begitu kok .. masak masih malu.. “

Mbak Emi hanya tertawa dan melepas kembali pegangan tangannya yang menutup bajunya, terlihat kembali gundukan sangat indah itu yang membuatku selalu lupa daratan padanya, sering aku bermain di dadanya, dari meremas, memilin, mengecup, menjilat dan mengulum puntingnya dan Mbak Emi sangat puas sekali atas permainanku di buah dadanya, bahkan penisku pun pernah muncrat ketika di jepit buah dadanya. Mbak Emi lalu menuju aku duduk, di dorongnya aku agar rebah pada dudukan tangan di sofa. Kedua tangan Mbak Emi memegang bahuku dan Mbak Emi langsung menduduki selakanganku.

Bokongnya yang cukup menggairahkan itu menduduki tepat pada penisku dan membuatku menjerit ringan

“Auh.. “ jeritku

“Kenapa sayang .. “ ujarnya dengan penuh senyuman nakal.

“Sakit tahu .. “

“Biar tahu rasa .. seminggu nggak ngapeli aku .. tanggung akibatnya .. “

Mbak Emi memakai celana panjang dari bahan kain biasa dan tidak tebal, sehingga kelembutan bokongnya sangat terasa di penisku.

“Penismu kejepit ya Han . “ujarnya cekikikan. Kemudian Mbak Emi menggeser agak kebawah sehingga penisku merasa terbebas, namun Mbak Emi masih menggodaku.

“Kamu memang jorok Mbak … “

“Masak .. “ ujarnya sambil menjawil hidungku

“Suka bilang penis sembarangan di depanku .. “ kataku sambil mengelus pahanya yang masih menggunakan celana panjang.

Mbak Emi tertawa keras.

“Aku nggak suka penis punya sembarangan orang, sayang .. aku suka punyamu .. Mbak suka punyamu yang sering masuk ke lubangku secara sembarangan .. “ ujarnya tak kalah nakal. Aku tak kuwat menahan tawa, sehingga kami tertawa berdua.

“Kau tambah cantik saja Mbak Mbak Emi .. seminggu rasanya lama banget .. “

“Iya . kayak sedetik saja persis sehari … “

“Tapi kalo kita bercinta semalaman kayak cuma sejam ya .. “ ujarku kembali mengerjainya

Mbak Emi kembali tertawa. Tawanya terhenti dan berganti dengan senyumannya yang manis dan selalu membuatku tak bisa tidur nyenyak, aku suka membayangkan Mbak Emi tersenyum

“Ah masak .. “

“Sumpah deh … aku suka senyummu .. “

“Bohong … buktinya kau suka diberi senyum pada cewek lain .. “

“Tapi yang terindah bagiku hanya milik Mbak Mbak Emi deh … punya ciri khas banget, aku merasa kedanan padamu Mbak .. “

“Han … “ kata Mbak Emi melenggak menahan nafsunya yang tidak tersalur selama seminggu

“Ada apa Mbak Mbak Emi ?”

Mbak Emi hanya terdiam memandangku.

“Malam ini tidur di sini ya .. puasi aku .. aku nggak tahan deh .. “

Aku tak menjawab, hanya memandangnya lalu kupegang kepalanya lalu menciuminya dengan lembut dan Mbak Emi membalas secara lembut juga. Aku mendorong tubuh Mbak Emi agar duduk dan tidak menaruh bokongnya di selakanganku.

“Aku belum mandi .. kau mau ikut mandi ?” ajaknya

“Nggak ah .. dingin dingin gini kok mandi, aku butuh kehangatan Mbak “

Mbak Emi hanya tertawa. Lalu berdiri kemudian hilang masuk kemarnya, keluar dari kamar hanya berbalut handuk. Mbak Emi menuju pintu rumah dan menutup serta mengancingnya. Lalu Mbak Emi menuju ke ruang tengah lalu ke belakang sebelum lenyap dari pandanganku kusapa

“Mbak Mbak Emi .. “

“Ya sayang .. “

“Buka handukmu Mbak .. aku ingin melihatmu .. “

Tanpa ragu ragu Mbak Emi langsung membuka balutan handuknya, tubuhku langsung panas dingin, Mbak Emi tanpa menggunakan CD dan BH. Buah dadanya yang indah dan rambut kemaluannya yang tertata rapi, tubuhnya benar benar sempurna bagiku, tubuh seksi yang selalu kunikmati di villa dan rumahku, kini akan kunikmati di rumahnya. Wanita ini sungguh menyiksa batinku, karena aku jatuh cinta padanya

“Sudah sayang ?” tanyanya sambil tersenyum menggoda. Aku hanya mengelu penisku dan itu dilihat oleh Mbak Emi sehingga Mbak Emi hanya menjawab dengan mengeluarkan lidahnya dan menyapu bibirnya pertanda ingin menikmati lagi penisku yang besar. Aku hanya kecewa ketika Mbak Emi sudah lenyap dari pandanganku, hanya bayang bayang yang masih ada di pikiranku. Tubuh seksi Mbak Emi membuatku selalu lupa daratan, ketika masih berpakaian lengkap aku memang tak begitu nakal, namun melihat Mbak Emi telanjang tanpa sehelai benang aku baru merasa sangat lapar untuk menerkamnya. Aku masuk ke kamarnya sambil mencopot seluruh pakaianku dan tiduran di ranjang tersebut, baru kali ini masuk kamarnya yang sangat indah untuk digunakan bermain cinta, empuk sekali dan ranjang itu tak jauh beda dengan yang di villa Cipanas. Mbak Emi masuk ke kamarnya, melihatku sudah polos tanpa pakaian Mbak Emi terkejut, apalagi melihat penisku yang ngaceng serta ereksi membuat dirinya melenggak menahan nafsunya. Tak tahan juga langsung memegang penisku dan mengocoknya. Kutarik handuknya agar lepas, tubuhnya sangat harum, dan terasa dingin terkena air sehabis mandi, Mbak Emi langsung menjilati penisku dengan lidahnya, sapuan lidahnya pada batang penisku, membuat aku menahan sensansi kenikmatan seks.

“Mbak .. aku suka jilatan Mbak Mbak Emi pada kontolku .. “ kataku sambil meremas buah dadanya yang menggelantung indah, bentuknya tidak seperti buah pepaya yang panjang, walau dah menyusui ketiga anaknya, namun masih segar dan sangat montok bahkan tanpa cela sedikitpun layaknya gadis gadis 20 tahunan, puntingnya yang sedikit besar kuputar dan membuat Mbak Emi menahan birahi lebih besar, kuberi rangsangan pada buah dadanya, jilatan pada penisku semakin bernafsu dan memasukan penisku ke mulutnya,penisku yang besar itu terasa sangat sesak di mulutnya. Mbak Emi mengulum penisku dengan memasukan dan mengeluarkan sehingga penisku semakin mengkilap dengan kulumannya. Aku masih bermain dengan buah dadanya. Ku remas remas kedua buah dadanya itu dan Mbak Emi hanya mendesah dan meringis menahan nikmat, hanya erangan tak jelas ketika menahan remasanku yang semakin menggila di buah dadanya.

Aku mengelus elus punggungnya yang mulus, lalu turun ke belakang meremas pantatnya yang aduhai, Mbak Emi melenguh bak cacing kepanasan, tubuhnya mengelinjang seiring remas tanganku pada bokongnya.

“Bokong indah sekali Mbak Mbak Emi … kau wanita sempurna untukku “

Mbak Emi hanya mendelikan mataku dan penisku masih dalam mulut, aku menahan tawa karena wajahnya menjadi lucu. Hanya senyum yang kuberikan dan Mbak Emi kembali ke bekerja mengulum penisku.

“Auh … Mbak … enak Mbak … “

Mbak Emi menghentikan mengulum penisku dan memandangku

“Aku mau menelan manimu, sayang .. “

“Lakukan Mbak Mbak Emi .. lakukan … “

Mbak Emi semakin bernafsu kembali mengulus penisku, tangan kanannya memegang penisku dan kirinya memegang pahaku. Kurapikan rambutnya agar tidak mengganggu keasyikannya mengulum batangku yang terasa sangat besar bagi mulutnya yang sensual. Bagiku wanita ini bukan hanya parnert sex bagiku, aku suka sikapnya yang dewasa tapi kadang manjanya kelewatan, otaknya cerdas dan nyeni sekali, lebih lebih aku suka sifatnya yang tidak mudah jatuh jika dipuji orang banyak, namun di hadapanku, ibu tiga anak ini harus bertekuk lutut padaku. Dia sangat perhatian padaku, ketika aku hanya pusing atau pilek dia datang menengokku meninggalkan pekerjaan padahal jadwalnya padat sekali. Bahkan ketika aku sakit berhari-hari capek mengerjakan pekerjaan Mbak Emi, aku ditungguin sampai 3 hari, dia bahkan mencucikan bajuku, mengurus rumahku. Bahkan memasakan aku dengan makanan yang bergizi serta menjagaku, dia belanja sendirian ke mall, dari wajahnya nampak letih, aku minta maaf karena menyusahkan dirinya. Perhatiannya sangat besar pada diriku, aku bak orang yang tak bisa dilepaskan seharipun, jika aku pergi dia merasa sangat sedih, seolah dia tak mau kutinggalkan. Malam malam ketika aku bangun, kulihat dia duduk di kursi dan menopangkan tangannya, pipinya berlinang air mata. Dia bilang bahagia dan sangat mencintaiku.

Mbak Emi masih terus mengulum penisku, aku merasakan sedotannya yang dashyat, memang aku menyukai kuluman Mbak Emi di penisku yang terasa sangat lain dibanding wanita lain yang pernah kutiduri. Mbak Emi tidak pernah kasar memainkan penisku, dia merasa kalo penisku dipakai secara kasar pastilah aku akan sakit, dia sendiri sering gemas jika kami mandi berdua, menyabuni penisku saja saat mandi bisa sampai tiga kali. Lebih lebih suka meremas pelan penisku, serta kadang nakal menarik rambut di kemaluanku.

“Mbak Mbak Emi … aku nggak tahan deh .. auh … enak Mbak .. enak .. “

Mbak Emi mempercepat kulumannya, namun tetap terasa lembut dan nikmat, tidak kasar, giginya menyentuh penisku membuat aku melayang ke angkasa, aku merasa tak tahan dengan kulumannya, kucari pelampiasan dengan meremas remas buah dadanya dan memuntir puntingnya lalu kuremas remas lagi. Mbak Emi hanya melenguh dengan sangat indah, desahan cintanya, membuat aku susah untuk melupakan wanita ini.

“Mbak .. tahan .. Mbak .. aku entar lagi keluar .. “

Mbak Emi tak mengatakan apa apa masih terus saja menyedot nyedot penisku. Aku sangat tak tahan dan aku merasa terbang ke langit ke tujuh ketika isi penisku muntah dan ditelan bulat bulat oleh Mbak Emi.

“Mbak Mbak Emi … aku … keluar .. “

Mbak Emi menyedot semua isi buah pelirku dengan semangat, bahkan setelah itu menjilati penisku dengan sangat bersih, lidahnya menyapu seluruh batangku, tidak tersisa sedikit maniku.

“Manimu enak Han .. “

“Itu karena makanan yang menyediakan khan Mbak Mbak Emi, jadi yang dikeluarkan juga bergizi, bahkan yang keluar dari anusku pun bisa untuk diibikin kompos .. “ ujarku ngawur dan dibalas tawa Mbak Emi

“Bagaiamana, sayang ?”

“Makasih Mbak Mbak Emi .. aku istirahat dulu .. “

Mbak Emi tersenyum lalu keluar dari kamar dan masuk kembali dengan tubuh yang telanjang lalu memberikan minuman dingin kepadaku. Lalu rebahan di sampingku, Mbak Emiber keringat dan mengelap dahinya dengan kain yang dibawa bersama minuman tadi, dia megelap dahiku juga.

“Ntar gantian Mbak Mbak Emi aku kerjai dan jahilin ya … “ ujarku nakal.

“Hihihihihi …. Kau nakal juga ,sayang .. “

“Akan kubuat kau kelonjotan bak cacing kepanasan Mbak Mbak Emi … akan kutelan cairanmu seperti kau menelan maniku … “

“Idih … “

“Aku tak terima kau buat aku muncrat dahulu .. malam ini akan kugumuli dirimu, akan kubuat kau bertekuk lutut menyerah terengah engah tak kuat percintaan ini .. “

“Coba kalo berani … “ tantangnya sambil tersenyum genit dan nakal.

“Akan kuhamili kau Mbak Mbak Emi .. “

“Lakukan semaumu terhadap diriku sayang .. puaskan aku sepuas puasmu sampai aku menyerah “

Aku langsung mengangkangkan kedua kaki Mbak Emi lalu masuk ke selakangannya, kedua kaki Mbak Emi tidak menjepit tubuh atau kepalaku, kusapu rambut kemaluannya dengan lidahku, Mbak Emi langsung menahan sensasi, desahanya sangat indah di telingaku, desisan yang mengundang birahi, tangannya mengelu elus rambut dan kemudian mencium kepalaku sambil kembali bersandar ke bantal karena terangsang akan jilatanku pada vaginanya. Mbak Emi menjerit tertahan ketika dengan nakal tanganku ikut masuk ke dalam lubangnya.

“Aahh … enak Han .. enak cintaku .. enak … “

Kujilati lubangnya lagi, kali kembali tanganku masuk lagi, labia mayoranya semakin merekah, kujilati lalu kusapu dengan lidahku, bahkan setengah nakal aku mencabut satu rambut kemaluannya

“Aduh … sakit tahu .. “ ujarnya galak sambil kembali mengangkat tubuhnya lalu tangannya menggapai penisku yang sudah tegak kembali dengan perkasa, penisku disentilnya dengan jarinya membuatku menahan diri menjilati vaginanya.

Tanganku naik ke atas menggapai buah dadanya mengeras, kuremas remas sesukaku, membuat Mbak Emi kembali rebah dengan bersandar bantal, tubuhnya oleng ke sana kemari bak cacing kepanasan. Tangannya meremas sprei ranjang itu, bahkan sampai sobek karena kukunya sangat tajam. Kuda betinaku ini meringkih menahan sensasi yang luar biasa, nafasnya terengah engah menahan sensai birahinya yang tinggi dan hanya mau bercinta denganku. Bagi Mbak Emi aku adalah segalanya, aku merasa dianggap sebagai orang yang menjaganya.

“Han .. aku nggak tahan .. nih .. “

Ku jilati klitoris yang sebesar sebiji kacang itu, setiap kujilat tubuhnya melengkung ke atas dan kutambah dengan meremas buah dadanya. Inilah titik kelemahan Mbak Emi, ketika vagina dan klitorisnya dibuai dengan lidah dan ciuman serta ditambahi dengan remasan pada buah dadanya dia akan keluar. Belum ada 10 menit Mbak Emi sudah berteriak

“Sayang .. aku nggak tahan … aduh .. terus terus .. aku klimaks .. Oh …. Oh … “

Aku tetap meneruskan keasyikanku mengerjai kemaluannya, tubuhnya kembali melengkung bak busur panah, kedua kakinya menjepit kepalaku dan muncrat lah cairan kewanitaannya. Mbak Emi langsung melemas tanpa tulang ketika orgasme mencapai puncak, ku telan semprotan air maninya yang mengenai mukaku dan sebagian masuk ke dalam mulut.

“Gila .. gila … belum ada 10 menit aku keluar … “

“Aku lebih 20 menit khan tadi .. jadi kau kalah Mbak Mbak Emi .. “

“Ah ndak .. yang penting sama sama keluar .. “

“Tapi aku lebih lama .. “ ujarku nakal sambil kembali meremas buah dadanya.

“Sayang .. isitirahat dulu .. capek bener”

“Nanti akan kubuat kau keluar lagi .. aku kusodok sodok lubangmu Mbak Mbak Emi .. “

“Lakukan sayang .. lakukan sepuasmu .. “

“Tapi kau harus janji ya Mbak Mbak Emi .. “

“Soal apa ? sayang “ tanyanya bingung

“Sekalipun kita menikah, kau tetap akan kupanggil Mbak Mbak Emi .. “

“Kok gitu sih ?” ujarnya keberatan

“Kalo Mbak Mbak Emi nggak mau, aku nggak mau lagi sama Mbak Mbak Emi .. akan kucari wanita lain dan kunikahi“ ancamku dengan sedikit emosi dan sikap sangat kecewa, kubuang bantal yang dekat tubuhku, lemparan bantalku mengenai tempat rias dan banyak botol botol kecantikan berjatuhan.

“Jangan ah .. jangan .. baik, baik .. kau boleh memanggilku Mbak Mbak Emi sampai kapanpun, aku suka akan panggilan itu .. “

“Bahkan aku lebih suka lagi, Mbak Mbak Emi tidak menyebut dirimu dengan “aku” tetapi tetap Mbak, atau Mbak Mbak Emi .. “

“Baik .. baik .. Mbak Mbak Emi suka kok .. seneng dipanggil begitu .. Mbak Mbak Emi bahagia jika kau memanggilnya begitu … “ ujarnya sambil melumat bibirku dengan penuh cinta.

“Aku akan kecewa sama Mbak Mbak Emi, jika Mbak Mbak Emi tak mau dipanggil dengan nama Mbak Mbak Emi, Mbak Mbak Emi sangat mengecewakan aku dan menyakiti hatiku …hatiku sangat sedih jika Mbak Mbak Emi tidak mau.. hatiku seakan sakit sekali … sakit .. sakit .. “

“Sayang .. jangan sedih .. Mbak Mbak Emi mau kok, Mbak Mbak Emi janji akan senang jika kau menyebut begitu, dan Mbak Mbak Emi akan selalu begitu sampai kapanpun .. sekalipun kau menikah denganku kau boleh memanggil dengan nama Mbak Mbak Emi atau Mbak Mbak Emi atau Mbak Febrianti, namun tidak boleh dihadapan anak kita .. anak anak akan menanyakan panggilanku , masak suaminya manggil make Mbak “

“Nama Mbak Emi sangat indah di hatiku, Mbak .. aku suka dengan nama itu dan lebih suka ditambahi dengan kata Mbak .. setiap aku memanggil Mbak Mbak Emi dengan nama itu, aku semakin sayang sama Mbak Mbak Emi, aku semakin cinta sama Mbak Mbak Emi .. dan cintaku selalu tambah hari tambah sayang jika aku memanggil Mbak Mbak Emi dengan nama itu .. aku sedih akan penolakan Mbak Mbak Emi .. “

“Mbak Mbak Emi tidak menolakmu sayang … Mbak Mbak Emi suka kok .. Mbak Mbak Emi juga merasa, jika kau memanggil dengan nama Mbak Mbak Emi itu, rasa cinta Mbak Mbak Emi semakin besar padamu, Mbak Mbak Emi semakin sayang padamu .. Mbak Mbak Emi juga merasa hampa jika kau memanggil Mbak Mbak Emi hanya cukup nama itu .. “

“Terima kasih kekasihku .. terima kasih Mbak Mbak Emi .. “

“Sama sama sayang … Mbak Mbak Emi sayang padamu, hal hal yang kecil, yang Mbak Mbak Emi lakukan padamu, kau tak pernah lupa mengucapkan terima kasih pada Mbak Mbak Emi … “

Waktu masih menunjukan pukul 21, segera kutindih wanita ini sebelum vaginanya menutup rapat, kuarahkan penisku ke lubangnya, kukangkangkan kakinya lalu penisku mulai menembus lubangnya yang sempit padahal sudah 3 kali melahirkan anak, luar biasa vagina Mbak Emi, benar benar terawat dan masih sangat rapat, penisku seperti disedot sedot, apalagi ditambah jepitan kakinya pada pinggangku. Penis ku masu pelan pelan tak terasa sangat sesak

“Tahan .. sayang .. tahan .. sakit tahu .. punyamu besar sekali … “

Kutahan penisku dan kutarik lalu kusodokan lagi, mili demi mili, centi demi centi penisku tenggelam dalam vaginanya yang becek, kutarik dan kudorong lagi. Mbak Emi menahan rasa sakit dan rasa nikmat yang luar biasa, baru kali ini Mbak Emi merasakan kenikmatan bercinta, permainan cintanya dengan orang lain selama menikah sangat monoton membuat dirinya merasa kecewa. Menahan perasaan birahi membuat dirinya menderita bertahun tahun, bertemu denganku perasaan itu luruh, hancur dan merasa sangat bahagia dan sangat takut kehilangan diriku. Aku menahan diriku dengan bertelapak di ranjang samping buah dada Mbak Emi yang sangat indah berbalut keringat yang membanjir, kumasukan lagi penisku dan langsung kusodok, penisku amblas ke dalam lubangnya. Sedotan dan remasa penisku di dalam vaginanya yang becek itu sangat membuatku harus menyelesaikan ronde ketiga ini.Mbak Emi mengakui akhirnya keluar duluan berarti kalah, karena tidak tahan mengalahkan aku dalam bertahan tidak muncrat.

“Akan kubuat 2-0 sayang … “

“Ah nggak .. nanti palingan 2-1, sayang … “ ujarnya nakal ketika aku mulai memajumundurkan pantatku. Maju dan mundurnya pantaku disambut dengan goyangan pantat Mbak Emi membuatku semakin senang. Kami saling memacu, saling meremas, memeluk, kutindih Mbak Emi lalu Mbak Emi menjepit pinggangku, aku tetap menggoyang pantatku maju mundur, kandang memutar, demikian pula dengan Mbak Emi kadang memutar pantatnya dan penisku merasa sangat enak dijepit dan diputar. Kapal semakin ke tengah lautan menyatukan cinta kami dalam sebuah pergumulan di kamar tidur Mbak Emi. Inilah kamar yang kuimpikan karena aku ingin menyetubuhi di rumahnya, yang kelak nantinya jika menjadi suami aku akan selalu bercinta di ranjang ini.

Ku lumat bibirrnya yang seksi dan sensual, kupegang kepalanya untuk mengontrol lumatanku yang dibalas oleh Mbak Emi, sering Mbak Emi menarik ke belakang kepalaku karena tak kuat akan lumatanku yang dashyat, Mbak Emi sering tak tahan jika aku melumat sampai sepuasku di bibirnya. Aku selalu memaksakan diri melumat bibirnya sampai Mbak Emi menarik kepalaku dengan nafas yang tak karuan, nafasnya terengah engah bak orang yang capek berlari dikejar hantu, bibirnya penuh dengan air liur kami demikian pula dengan aku yang tubuhnya berkeringat membanjir.

Kupacu kembali tubuhku menyodok nyodokan pantaku, kuremas remas buah dadanya dengn gemas, ku lumat bibirnya kembali dan Mbak Emi akhirnya tidak membalas lagi lumatanku karena kalah, Mbak Emi mengejang karena hendak keluar, jepitannya semakin keras menjepit pinggangku

“Sayang .. aku tak tahan .. “ujarnya menjerit tertahan

Kutuntaskan sodokanku sampai Mbak Emi keluar dan cairanya membasahi penisku dan menete ke ranjang, tubuhnya melengkung dan kuremas kembali buah dadanya.

Penisku terasa di siram cairan kenikmatan, Mbak Emi langsung lemas tak kuat menahan orgasmenya. Tubuhnya diam tak bergerak, matanya hanya memutih menahan nikmat dalam hubungan badan ini, penisku masuk menancap dan masih keras. Ku biarkan dia mengatur nafas, dan tubuhku menindihnya dan kupeluk serta kuberikan kecupan di dahinya

“2-0 ya.. sayang .. “ ujarku sambil membisikan kata kata cinta dan rayuan

Mbak Emi hanya diam lalu mengelus elus pungguku lalu meremasi kepalaku.

Mbak Emi mendorong tubuhku dan menyuruh penisku ditarik keluar

”Nggak mau, sayang … biarkan aku tetap kau jepit “

Mbak Emi hanya tersenyum lalu menggulingkan tubuhku dan kini Mbak Emi menindih aku. Mbak Emi bangun dari pelukanku dan kini duduk di selakanganku. Aku sangat menyukai bentuknya tubuhnya yang sangat indah, rambutnya tergerai acak acakan, tubuhnya mengkilap karena berkeringat, buah dadanya sangat indah dan membusung padat. Dan ada cupang yang kubuat di buah dadanya. Kugigit buah dadanya ketika aku bermain dengan mulutku di buah dadanya. Mbak Emi menjerit keras ketika aku menggigitnya, ada berkas darah di situ yang membuat aku sangat senang, membuat cupang di leher aku tak boleh oleh pacarku ini. Mbak Emi melarang karena takut kalo difoto wartawana akan ketahuan mempunyai kekasih, padahal Mbak Emi sangat menutup rapat soal aku di media, walau ada bisik bisik di beberapa karyawati lain atau wartawan infotainment Mbak Emi membantahnya dan tidak ada seorang pun yang bisa membuktikan. Mbak Emi sangat menjaga rahasia hubungan kami.

Mbak Emi berada diselakanganku dengan penisku masih menancap, lalu Mbak Emi mengoyang naik dan turun dengan pelan, goyangan itu membuat buah dadanya ikut naik turun, kutersenyum dengan gerakan kekasihku, Mbak Emi ! tubuhnya yang seksi itu terasa gemas bagiku untuk ke telan bulat bulat, namun karena posisiku rebah dan tanganku hanya mengelus elus pahanya yang mulus bercampur keringat kami.

“Han .. Mbak Mbak Emi goyang begini kau suka khan ?” ujarnya dengan memutar pantatnya searah jarum jam dan kembali balik melawan arah alur jam, penisku merasa diurut dan digoyang dengan dashyat, kutahan sensasi nikmat tiada tara, demikian pula dengan Mbak Emi yang menahan sensasi dengan memegan kedua kakiku di belakang pantatnya, Mbak Emi kembali naik turun menggoyang dang menghajar penisku yang masih sangat perkasa, sangat sulit ditundukan oleh seorang Mbak Emi, inilah yang Mbak Emi suka, aku bisa tahan 2 kali jika dia keluar duluan. Mbak Emi menggoyang aku semakin cepat naik turun, buah dada Mbak Emi ikut bergoncang, Mbak Emi meremas remas sendiri buah dadanya. Kugapai gapai tanganku untuk meremas buah dadanya, Mbak Emi membantu tanganku lalu meletakan tanganku di kedua buah dadanya, kuremas remas buah dadanya yang besar itu dan tanganku tak akan sampai menelan seluruh permukaan buah dadanya. Besar sekali buah dadanya, walau tak sebesar si lonte Sarah Azhari.

Goyangan Mbak Emi semakin cepat .. aku hanya menahan sensasi sambil terus meremas remas buah dadanya, akibat remasan buah dadanya itu dia sepertinya akan keluar

“Sayang .. kau mau keluar tidak ? “ katanya sambil terengah engah mengenjotku, gesekan dinding vagina dengan penisku sangat enak didengar dan menambah nafsu kami menuntaskan ronde ini. Mbak Emi terus memacu dan menggenjotnya, kepalanya menegandah ke belakang, tangannya menopang di dengkulku yang ku tekuk, sungguh indah sekali tubuh Mbak Emi dengan posisi seperti ini, dan aku suka jika Mbak Emi berada di atas menggenjotku.

Tubuhnya tiba tiba meregang kaku karena tidak tahan akan sodokan ku …

“ahh .. enak .. enak .. aku tak kuat .. sayang ..”

Kuberi tambahan dengan meremas buah dadanya, lalu dia melengkung dan muncratnya lahar asmaranya, kembali mencapai orgasme yang ketiga .. tubuhnya lemas tak bertulang lalu menuju ke depan dan ambruk dalam pelukanku, buah dadanya menekan dadaku. Nafasnya tak teratu terengah engah, kalo terlambat 3 menit saja, aku pasti juga akan muncrat namun aku menahannya, agar bisa memberi kepuasan seks yang maksimal untuk calon istriku ini, pacarku yang tercinta. Mbak Emi sampai menangis ketika dia sudah tidak lemas lagi, air matanya menetes di pipinya.

“Aku bahagia bersamamu .. Mbak Mbak Emi bahagia memiilikmu .. “

“Aku juga bahagia memiliku Mbak Mbak Emi .,. sejak menonton acara Mbak Mbak Emi dulu aku sering berkayal ingin memiliki Mbak Mbak Emi .. dan kini impianku tercapai .. aku cinta padamu Mbak Mbak Emi .. “

“Mbak Mbak Emi juga cinta kamu,sayang …” ujarnya sambil memelukku erat

“Penisku masih tegak ya sayang .. “ ujarku nakal

“Punyamu benar benar hebat .. vaginaku terasa sakit tapi enak sekali .. kapan deh kamu keluar .. please .. aku nggak kuat nih … “

“ Aku sudah bilang sama Mbak Mbak Emi, akan kubuat Mbak Mbak Emi bertekuk lutut dan meminta berhenti ..”
“Iya sayang .. semprot aku dengan air manimu .. hamili aku .. hamili aku .. akan kubuatkan kau anak berapapun .. Mbak Mbak Emi sangat sayang padamu ., sayang sekali .. aku lenih baik mati dari pada kehilangan dirimu..”

Kuputar tubuh Mbak Emi febrianti, kini gantian aku yang di atas, aksiku tanpa melepaskan penisku dari vagina Mbak Emi terasa menggesek kemaluan kami, sehingga tiba tiba Mbak Emi menggelegak nafsunya dan naik lagi. Aku duduk hampir di bibir ranjang dan kakiku kuturunkan ke lantai, lalu kuangkat satu kaki Mbak Emi agar dalam posisi menggunting, tanpa melepaskan penisku dari sarang Mbak Emi, kakiku yang kiri turun ke lantai, kini aku setengah berdiri hendak menyodok nyodok vagina Mbak Emi. Sodokan kubuat dengan seirama mungkin, kepegang kedua pahanya dengan tanganku untuk menahannya agar tidak menjepit terlalu keras, jika menjpit terlalu keras, penisku bisa gepeng dan memuncratkan air maninya karena aku sudah tahan lagi, akan kuhamili pacarku ini, jika hamil baru kunikahi, akan kujadikan istri yang baik, akan kujaga kesetiaanku dengan menyingkirkan Tamara Bleszinsky dan Alice NorMbak Emi, tak akan kubiarkan Tina Talisa mereguk lagi kepuasan dariku, cukup satu anak Tina .. Akan kutinggalkan si lonte Sarah Azhari ..

Sodokan membuat Mbak Emi bergoyang goyang buah dadanya, tubuhnya naik turuns eiring sodokanku.

“Sodok terus, sayang .. Mbak Mbak Emi sudah nggak kuat .. Mbak Mbak Emi dah capek .. padahal baru jam 11, Han ..”

“Kau nyerah Mbak Mbak Emi .. ??”

“belum sayang .. belum .. nanti kita lanjutkan .. tapi selesaikan ronde ini … semprot Mbakmu ini, hamili Mbak Mbak Emi ini … Mbak Mbak Emi adalah istrimu sayang … dan Mbak Mbak Emi sebagai istri sangat sayang padamu … “ ujarnya sambil merem keenakan seiring aku menyodoknya. Kuberikan sodokan 4:1 dengan intonasi yang mantap, kadang dengan kasar aku menyodoknya membuat Mbak Emi semakin tenggelam dalam kenikmatan surgawi. Tubuhnya tergoncang goncang dan menambah nafsuku untuk memuntahkan maniku .. katanya Mbak Emi sudah nggak memakai kontrasepsi lagi, padahal janjinya selepas kami menikah tidak memakai kontraepsi, jadi kemungkina aku menghamilinya kian besar, aku ingin punya anak dari wanita ini,wanita yang kusayangi … lebih lebih Mbak Emi sanggup akan memberikan anak berapun jika kami menikah …

Kami memacu dengan penuh rasa cinta dan pengorbanan, pengorbanan seorang kekasih yangs seharusnya dianggap sebagai seorang istri dan adik, tapi kuanggap sebagai seorang istri dan kakak, bagiku Mbak Emi memang selalu menasehati aku seperti seorang kakak perempuan, dan aku suka dengan sifat demikian. Inilah yang membuatku memanggil dengan nama memakai Mbak, dan justru aku semakin senang dan suka bahkan hatiku terasa berlipat lipat mencintai Mbak Emi.

“Oh .. Mbakyuku yang cantik dan seksi .. “ kataku meracau

“Iya sayang .. iya .. kau memang ganteng dan cakep.. Mbak Mbak Emi sangat cinta padamu “

Aku menyodok nyodok teruse lbih dari seperempat jam, aku merasa tak kuat lagi meneruskan.

“Sayang .. Mbak Mbak Emi nggak tahan .. Mbak Mbak Emi mau keluar .. ayo kau keluarkan air manimu … semprot ke vagina Mbak Mbak Emi, hamili Mbakyumu yang cantik dan cakep ini .. “ujarnya meracau tak karuan

Aku semakin kepayahan dengan tubuhku, tubuhku terasa panas, lalu turun ke perut lalu menjalari penisku yang ekluar masuk ke vaginanya yang becek

“Mbak .. aku nggak tahan .. “

“Iya .. sayang .. Mbak Mbak Emi juga mau keluar .. “ ujarnya dengan merem melek keenakan kusodoki.

Kumuncratkan lahar isi penisku terasa dashyat … kusemprotkan air maniku ke lubangnya dan Mbak Emi menyusul 3 detik kemudian

“Akkkuuuuuuuuu ….saaaaaammmmmmmmm pppaiiiiiiiiiii “ ujarnya sambil melemas

Aku lunglai dan kemudian tubuhku serasa lemas tanpa tulang dan ambruk menindih tubuh Mbak Emi, Mbak Emi memelukku dengan lembut dan mengelus elus kepalaku

“Mbak Mbak Emi ngaku kalah, sayang … “

“Jadi kita berhenti sampai sini ?”

“Nggak sayang … kita lanjutkan nanti .. “

“Aku ingin punya anak dari Mbak Mbak Emi .. “

“Akan Mbak Mbak Emi buatkan sayang, untukmu Mbak Mbak Emi akan selalu mengabulkan “

“Aku ingin menikah secepatnya dengan Mbak Mbak Emi .. aku bisa pulang ke rumah dan bertemu dengan Mbak Mbak Emi terus .. “

“Kau siap menjadi terkenal, sayang ?”

“Asal jangan bawa aku ke media, Mbak Mbak Emi .. “

“Tidak sayang .. Mbak Mbak Emi akan ingat janji Mbak Mbak Emi .. Mbak Mbak Emi tak mau menyakiti dirimu .. Mbak Mbak Emi sangat sayang padamu .. “

Penisku semakin menciut dan hendak keluar dari sarang.

“penismu kempes ya sayang .. “

“Iya Mbak Mbak Emi .. dah plong muncrat ke dalam rahim Mbak Mbak Emi .. “

“Kalo Mbak Mbak Emi nggak hamil, maaf Mbak Mbak Emi dalam posisi ndak subur .. jadi kamu harus bersabar menyodoki Mbakyumu yang seksi dan cakep ini “

“Ya Mbak Mbak Emi .. “ ujarku memeluku erat dan penisku masuk menancap dalam posisi setengah ngaceng lalu kutarik, bunyi tarikan penisku terasa terdengar, ketika penisku dah keluar dari vagina Mbak Emi keluar air maniku dan cairan Mbak Emi, labianya seakan akan merapat kembali dalam pandanganku

“Mbak Mbak Emi capek sayang … istirahat ya .. masih ada sampai besok pagi .. “

“Aku pulang besok pagi Mbak Mbak Emi .. aku ada pekerjaan yang harus kuselesaikan, juga mengurus surat surat melamar Mbak Mbak Emi .. “

“Iya sayang .. aku juga ….."

Aku mengguling ke samping, kupeluk Mbak Emi dalam pelukanku dan Mbak Emi menurut.

“Menurut Mbak Mbak Emi … kira kira kita akan tinggal di mana ?”

“Aku dah bosan tinggal di sini,sayang .. aku ingin membuang kenangan lama ..”

“Tinggal di rumahku saja Mbak .. “

“Iya sih .. Cuma kurang besar buat anak anak kita lagi, belum ketiga anakku yang lain “

“Salahnya sendiri membelikan rumah aku kekecilan .. “

“Iya .. Mbak Mbak Emi nggak mikir kesitu .. jadi kau pindah dulu, Mbak Mbak Emi akan membongkar rumahmu dan diperluas … biar Mbak Mbak Emi yang bayar semua … uang Mbak Mbak Emi masih cukup kok, nanti kau juga kerja nyari duit, Mbak Mbak Emi akan jadi bendaharamu … “

“Cuma bendahara khan ? tidak korupsi make gitu .. “

“Ah kau ini .. nakal banget .. “ sambil mencubitku tanganku yang memeluk, memeluk buah dadanya tapi tidak meremasnya, aku suka memeluk dan memegang buah dadanya ketika tidur, buah dada yang selalu kurindu tiap hari, seperti penisku yang selalu dirindu Mbak Emi.

“lha tugas bendahara khan gitu, cuma ngatur tapi nggak make .. kalo make itu namanya bendaharam..”

Mbak Emi tertawa merdu dan aku suka akan tawanya

“Nggak gitu .. kamu kerja aku di rumah menunggumu .. “

“Mang usaha Mbak Mbak Emi mau ditutup ?”

Mbak Emi kaget dan memutar tubuhnya dan kini kami berhadapan dengaku dalam posisi miring, kuberikan bantal untuk mengganjal siku tangannya yang menopang kepalanya.

“Nggak .. biar sanggar itu bertahan terus sampai kapanpun .. berkat dirimu sekarang makin besar, banyak undangan acara kemana mana untuk tampil … “

“mau main sMbak Emitron lagi ?”

“Nggak ah .. dah bosen… banyak orang protes sMbak Emitron kayak gitu .. mending terjun di budaya”

“Emang sejak kapan Mbak Mbak Emi jadi penerjun ?” ujarku bloon

“Idih … “ ujarnya sambil menjawil hidungku gemas.

“Mbak Mbak Emi suka jika kau nyelelek kayak gitu … “

“Dan Mbak Mbak Emi tertawa gitu “

“Iya sayang .. “

“Tawamu sungguh indah Mbak Mbak Emi .. aku suka .. apalagi senyummu yang tak pernah bisa membuatku tidur “

Mbak Emi tersenyum dan aku menikmatiku ..

“Lama lama aku bisa dibilang gila lho sama kamu .. “

“Jangan aku .. Mbak Mbak Emi .. “ ujarku

“Iya sayang .. maaf .. Mbak Mbak Emi belum terbiasa..”

Kami lalu tertidur kelelahan selama setengah jam, jam baru menunjuk hampir setengah dua saat kami terkapar lemas,sampai jam 4 pagi kami berhenti dari percintaan kami, Mbak Emi menyerah berteriak ketika sudah tak kuat lagi menahan libidoku, Mbak Emi sampai memintaku jangan memaksa karena selakangannya sakit sekali disodok sodok terus oleh penisku. Ranjang percintaan kami morat marit, bantul berhamburan, sprei becek dengan cairan kelamin kami, beberapa sprei ada yang sobek karena cengkereman yang kuat dari Mbak Emi yang menahan orgasme dan sodokanku serta remasan di buah dadanya oleh tanganku.

Aku masih tertidur di ranjang itu ketika matahari menerpa tanganku

“Sialan .. sudah jam 08 .. “

Aku tersadar, Mbak Emi tidak disampingku .. kubuang selimut lalu turun .. penisku malah berdiri tegak, namun aku merasa lemas, malas main lagi, kupakai handuk yang disampirkan di meja rias dimana handuk semalam itu yang dipakai Mbak Emi membalut tubuhnya selepas dari mandi dan masuk ke kamar. Keluar dan menuju dapur dan hendak mandi. Kulihat Mbak Emi sudah berpakaian rapi dengan pakaian berwarna biru. Tubuhnya dibalut dengan pakaian yang elok sekali, memakai baju warna putih lalu memakai kaos tipis warna biru serta celana panjang warna hitam, aku suka Mbak Emi memakai pakaianku itu.. karena aku suka warna biru.

“Pagi Mbak Mbak Emi .. “ujarku menyapanya

“Pagi juga, sayang .. baru bangun ?”

“Iya Mbak Mbak Emi .. “

“Segeralah mandi … jalanan masih banjir .. ndak perlu kerja ., di rumah sama Mbak Mbak Emi, bantu Mbak Mbak Emi ya soal soal seminggu yang lalu .. Mbak Mbak Emi masih belum paham akan alur cerita pementasan itu .. seolah misterius sekali … sampai sampai orang orangku bertanya kemana arahnya .. “

“Baik .. “ujarku sambil hendak mengambil gorengan pisang di meja, Mbak Emi yang memegang majalah langsung memukul tanganku pelan

“Mandi dulu … Mbak Mbak Emi nggak suka sama orang yang bangun tidur langsung makan .. bersihkan tubuhmu “

“Kalo Mbak Mbak Emi yang mandiin aku baru mau .. “

Mbak Emi memandangku

“Tapi janji nggak main di kamar mandi ya ?”

“Baik Mbak Mbak Emi .. aku janji demi Mbak Mbak Emi .. tapi jangan salahkan aku jika Mbak Mbak Emi terangsang “

“Baik .. “ ujarnya sambil menggandeng tanganku

Mbak Emi memandikan aku di bathtub itu, disabuni tubuhku, aku dimandiin oleh Mbak Emi

“Terima kasih Mbak Mbak Emi telah memandikan aku “

Mbak Emi tersenyum, berdiri hendak keluar dan melemparkan handuk kearahku dan kutangkap.

“kutunggu kamu di ruang depan .. Mbak Febri menunggumu .. “ ujarnya sambil tersenyum lalu lenyap dari pandanganku. Kukeringkan tubuhku yang wangi, lalu keluar dari kamar mandi lalu kembali ke kamar dan kupakai pakaianku. Mbak Emi masuk ke kamar dan memberikan baju baru

“Ini untukmu … “

“Aku suka motifnya Mbak .. “

“Pakai ya .. “

“Baik .. “

“Han, sayang .. “

“Ya Mbak Mbak Emi .. “

“kapan kamu ada waktu ibur ke jateng .. ??” tanyanya, yang arahnya sudah kutebak untuk menemui orang tuanya mempersiapkan pernikahan kami.

“Minggu depan saja kita berdua naik mobil .. “

“Nggak bisa .. tapi kalo dimolori dua hari baru bisa .. “

Kami akhirnya keluar dari kamar dan duduk di ruang depan membicarakan apa saja yang menjadi kesukaan kami masing masing untuk lebih saling mengenal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar